Jumat, 24 Juni 2016

analisis cerpen



ANALISIS STRUKTUR DALAM CERPEN
“SENYUM KARYAMIN”
KARYA: Ahmad Tohari


A.    Deskripsi Data
Hampir setiap hari karyamin mengambil batu memakai keranjang untuk selanjutnya dijual kepada penjual batu. Ia mengambil batu itu dari pegunungan yang jalannya sangat licin, sehingga setiap perjalannannya ia sering terjatuh. Dan batu-batu di dalam keranjangnya berjatuhan dan beterbaran dimana-mana.Takjarang teman-teman karyamin menertawakan dirinya. Ia hanya bisa tersenyum.



a.     Biografi tokoh
Ahmad Tohari, (lahir di Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah, 13 Juni1948; umur 67 tahun) adalah sastrawan dan budayawan berkebangsaan Indonesia. Ia menamatkan SMA di Purwokerto. [1] Karya monumentalnya, Ronggeng Dukuh Paruk, sudah diterbitkan dalam berbagai bahasa dan diangkat dalam film layar lebar berjudul Sang Penari. Ia pernah mengenyam bangku kuliah, yakni Fakultas Ilmu Kedokteran Ibnu Khaldun, Jakarta (1967-1970), Fakultas Ekonomi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto (1974-1975, dan Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman (1975-1976). Tulisan-tulisannya berisi gagasan kebudayaan dimuat di berbagai media massa. Ia juga menjadi pembicara di berbagai diskusi/seminar kebudayaan[2].

 

Dalam dunia jurnalistik, Ahmad Tohari pernah menjadi stafredakturharian Merdeka, majalah Keluarga dan majalahAmanah, semuanya di Jakarta. Dalam karier kepengarangannya, penulis yang berlatar kehidupan pesantren ini telah melahirkan novel dan kumpulan cerita pendek. Beberapa karyafiksinya antaralain trilogy Ronggeng Dukuh Paruk telah terbit dalam edisi jepang, Jerman, Belanda dan Inggris. Tahun 1990 pengarang yang punya hobi mincing ini mengikuti International Writing Programme di Iowa City, AmerikaSerikat dan memperoleh penghargaan The Fellow of The University of Iowa. [3]
Ronggeng Dukuh Paruk, novel yang diterbitkantahun 1982 berkisah tentang pergulatan penari tayub di dusunkecil, Dukuh Paruk padamasa pergolakan komunis. Karya nyaini dianggap kekiri-kirian oleh pemerintah OrdeBaru, sehingga Tohari diinterogasi selama berminggu-minggu. Hingga akhirnya Tohari menghubungi sahabatnya Gus Dur, dan akhirnya terbebas dari intimidasi dan jerathukum.[4]
Bagian ketigatrilogi, berjudul Jantera Bianglala, diterjemahkan kedalam bahasa Inggris dancuplikannya dimuat dalam Jurnal Manoa edisi Silenced Voices terbitan Honolulu University tahun 2000, termasuk bagian yang disensor dan tidak dimuat dalam edisi bahasa Indonesia. [5]
Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk diterjemahkan kedalam bahasa Inggris dengan judul The Danceroleh Rene T.A.Lysloff.Trilogiini juga difilmkan oleh sutradaraIfaIrfansyah dengan judul Sang Penari (2011). Tohari memberikan apresiasi yang tinggi terhadap parapembuat film Sang Penari, dan berujariniakanjadi dokumentasi visual yang menarik versi rakyat,  bukan versi kota sebagaimana dalam film-film sebelumnya. Padabulan Desember 2011, Ahmad Tohari mengungkapkan bahwa dirinya berencana untuk melanjutkan Triloginya menjadi Tetralogi dengan membuat satu novel lagi.

Penghargaan

  • Cerpennya berjudul Jasa-jasa buat Sanwirya mendapat Hadiah Hiburan Sayembara Kincir Emas 1975 yang diselenggarakan Radio Nederlands Wereldomroep.
  • Novelnya Kubah (1980) memenangi hadiah Yayasan Buku Utama tahun 1980.
  • Ronggeng Dukuh Paruk (1982), Lintang Kemukus Dini Hari (1985), Jentera Bianglala (1986) meraih hadiah Yayasan Buku Utama tahun 1986.
  • Novelnya Di Kaki Bukit Cibalak (1986) menjadi pemenang salah satu hadiah Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta tahun 1979. [8]
  • Pada tahun 1995 Ahmad Tohari menerima Hadiah Sastra Asean, SEA Write Award. [1]Sekitar tahun 2007 Ahmad Tohari menerima HadiahSastraRancage[7]

Karyatulis

  • Kubah (novel, 1980)
  • Novel Trilog iRonggeng Dukuh Paruk (diadaptasi menjadi film tahun 2011):
    • RonggengDukuhParuk (novel, 1982)
    • LintangKemukusDiniHari (novel, 1985)
    • JanteraBianglala (novel, 1986)
  • Di Kaki Bukit Cibalak (novel, 1986)
  • SenyumKaryamin (kumpulancerpen, 1989)
  • BekisarMerah (novel, 1993)
  • Lingkar Tanah Lingkar Air (novel, 1995)
  • NyanyianMalam (kumpulancerpen, 2000)
  • Belantik (novel, 2001)
  • Orang OrangProyek (novel, 2002)
  • RusmiInginPulang (kumpulancerpen, 2004)
  • RonggengDukuhParukBanyumasan (novel bahasaJawa, 2006; meraihHadiahSasteraRancagé2007
Karya-karya Ahmad Tohari telah diterbitkan dalam bahasa Jepang, Tionghoa, Belanda dan Jerman.Edisi bahasa Inggris RonggengDukuhParuk , LintangKemukusDiniHari , JanteraBianglala diterbitkan oleh Lontar Foundation dalam satu buku berjudul The Dancer diterjemahkan oleh Rene T.A. Lysloff. Pada tahun 2011, trilogidari novel RonggengDukuhParuk diadaptasi menjadi sebuah film fitur yang berjudul Sang Penari yang disutradarai IfaIsfansyah Film ini memenangkan 4 Piala Citra dalam Festival Film Indonesia 2011.
a.       Sinopsis cerpen

Hampir setiap hari karyamin mengambil batu memakai keranjang untuk selanjutnya dijual kepada penjual batu. Ia mengambil batu itu dari pegunungan yang jalannya sangat licin, sehingga setiap perjalannannya ia sering terjatuh. Dan batu-batu di dalam keranjangnyaberjatuhan dan beterbaran dimana-mana.Takjarang teman-teman karyamin menertawakan dirinya. Ia hanya bisa tersenyum.Ketika teman-temannya menakuti-nakuti tentang pegawai bank harian yang selalu menggodaistrinya di rumah ketika ia pergi, juga tidak ketinggalan tukang jualan edr kupon buntut.
Tapi,ketika teman-temannya mengejek, ia hanya bisa tersenyum. Ya tersenyum tanpa berkata sepatah kata pun. Saat di perjalanan, terasa sekali perutnya seperti melilit dan matanya yang berkunang-kunang. kakinya mulai gemetar karena menahan beban di pundaknya yang begitu berat.Memang, karyamin hanya tersenyum. Lalu bangkit meski kepalanya pening dan langit seakan berputar. Dia tersenyum ketika menapaki tanag licin yang berparut bekas perosotan tubuhnyaketika jatuh tadi.Ketika melewati pohon waru, ia melihat Saidah sedang menggelar dagangannya, nasipecel. Jakun Karyamin turun naik. Ususnya terasa terpilin.Saidah menawari Karyamin untuk makan di warungnya, hanya saja ia sadar akan hutang-hutangnya yang belum ia bayar. Ia tak tega melihat Saidah yang dengan sabar menunggutengkulak datang. Ia hanya meminta segelas air putih.
 Walau sebenarnya itu sangat tidak cukup. Bibirnya sudah membiru, dan kedua telapak tangannya pucat. Tapi walaupunSaidah memaksa, iahanya berlalu bersama seyumannya… ya, ia hanya tersnyum. Sebelum naik meninggalkan pelataran sungai, mata Karyamin menangkap sesuatu yangbergerak pada sebuah ranting yang menggantung di atas air. Oh, si paruh udang. Punggungnyabiru mengkilap, dadanya putih bersih, dan paruhnya merah saga. Tiba-tiba burung itu menukikmenyambar kan kepala timah sehingga air berkecipak. Dengan mangsa di paruhnya, burung itumelesat melintasi para pencari batu, naik menghindari rumpun gelagah dan lenyap di balikgerumbul pandan. Ada rasa iri di hati Karyamin terhadap si paruh udang. Tetapi dia hanya bisatersenyum melihat keranjangnya yang kosong.Masih dengan seribu kunang-kunang di matanya, Karyamin mulai berfikir apa perlunyadia pulang. Dia merasa pasti tak bisa menolong keadaan, atau setidaknya menolong istrinya yangsedang menghadapi dua penagih bank harian. Maka pelan-pelan Karyamin membalikan badan,siap kembali turun.
 Namun di bawah sana KAryamin melihat lelaki dengan baju batik bermotiftertentu dan berlengan panjang. Kopiahnya yang mulai botak kemerahan meyakinkan Karyaminbahwa lelaki itu adalah Pa Pamong. Pak Pamong menagih uang dana Afrika, dana untuk menolongorang-orang yang kelaparandisana. Karyamin mendengar suara nafas sendiri. Samar-samar karyamin juga mendengar detakjantung sendiri. Tetapi karyamin tidak melihat bibir sendiri yang mulai menyungging senyum.Senyum sangat baik untuk mewakili kesadaran yang mendalan akan diri serta situasi yang harusdihadapinya. Sayangnya, Pak Pamong malah menjadi marah oleh senyum Karyamin. Ia merasadihina oleh karyamin. Kali ini ia bukan hanya tersenyum, melainkan tertawa keras-keras.Demikian keras sehingga mengundang seribu lebah masuk ke telinganya, seribu kunang-kunangmasuk ke matanya. Lambungnya yang kampong beguncang-guncang dan merapuhkankeseimbangan seluruh tubuhnya. Ketika melihat tubuh Krayamin jatuh terguling ke lembah PakPamong berusaha menahnnya. Sayang, gagal.

b.      Analisis Data
1.      Cerpen “SenyumKaryamin” Karya: Ahmad Tohari
a.      StrukturCerpen
1)      Alur
Untuk menemukan struktur alur yang digunakan oleh pengarang di dalam cerpen ini,  peneliti berusaha melihat rangkaian peristiwa yang terdapat di dalam cerpen. Rangkaian peristiwa tersebut adalah sebagai berikut:
1.    Karyamin melangkah pelan dan sangat hati-hati.
2.    Karyamin sudah berpengalaman agar setiap perjalananya selamat.
3.    pagi ini Karyamin sudah dua kali tergelincir.
3.1. Tubuhnya rubuh lalu menggelinding ke bawah, berkejaran dengan batu-batu yang tumpah dari keranjangnya.
4.    “Bangsat!” teriak Karyamin yang sedetik kemudian sudah kehilangan keseimbangan. Tubuhnya bergulir sejenak, lalu jatuh terduduk dibarengi suara dua keranjang batu yang ruah. Tubuh itu ikut meluncur, tetapi terhenti karena tangan Karyamin berhasil mencengkeram rerumputan.
5.      “Istrimu tidak hanya menarik mata petugas bank harian. Jangan dilupa tukang edar kupon buntut itu.
6.      Mereka tertawa bersama. Mereka, para pengumpul batu itu, memang pandai bergembira dengan cara menertawakan diri mereka sendiri.
7.      Karyamin terpaku sejenak melihat tumpukan batu yang belum lagi mencapai seperempat kubik, tetapi harus ditinggalkannya.
8.      Karyamin hanya tersenyum sambil menerima segelas air yang disodorkan oleh Saidah.
9.      Si paruh udang kembali melintas cepat dengan suara mencecet. Karyamin tak lagi membencinya karena sadar, burung yang demikian pasti sedang mencari makan buat anak-anaknya dalam sarang entah di mana.
10.  Sebelum naik meninggalkan pelataran sungai, mata Karyamin menangkap sesuatu yang bergerak pada sebuah ranting yang menggantung di atas air.

11.  Sesungguhnya Karyamin tidak tahu betul mengapa dia harus pulang. Di rumahnya tak ada sesuatu buat mengusir suara keruyuk dari lambungnya.
12.  Karyamin mencoba berjalan lebih cepat meskipun kadang secara tiba-tiba banyak kunang-kunang menyerbu ke dalam rongga matanya.
13.  Sebelum habis mendaki tanjakan, Karyamin mendadak berhenti. Dia melihat dua buah sepeda jengki diparkir di halaman rumahnya.
14.  Karyamin mulai berpikir apa perlunya dia pulang. Dia merasa pasti tak bisa menolong keadaan.
15.   Min. di gerumbul ini hanya kamu yang belum berpartisipasi. Hanya kamu yang belum setor uang dana Afrika.
16.  Kali ini Karyamin tidak hanya tersenyum, melainkan tertawa keras-keras.
17.  Ketika melihat tubuh Karyamin jatuh terguling ke lembah Pak Pamong berusaha menahannya. Sayang, gagal.
2)      Penokohan
·         Karyamin, Seorang lelaki yang berprofesi sebagai kuli pengangkut batu yang miskin dengan penghasilan yang minim dan banyak hutang. Karyamin digambarka sebagai seorang yang sabar dan tak mudah putus asa dalam menjalani hidupnya yang penuh konflik, hal tersebut terbuktisaat ia merasa lapar ia tak mengeluh pada teman-temannya dan hanya tersenyum dalammenghadapi masalahnya. Namun terlepas dari semua itu, Karyamin juga memiliki sifat yangkasar sebagai
1.      seorang kuli, yang nampak pada saat ia berkata ―bangsat‖ dan berniat membabat burung paruh udang yang melintasinya.
2.      Selain itu, Karyamin juga memiliki sifat pengecut,terbukti ketika sampai di depan rumahnya dan mengira ada penagih hutang, ia hendak menghidar. 
·         Sardji, Teman Karyamin yang juga berprofesi sebagai kuli pengangkut batu. Dalam hal nasib, Sardji sama dengan Karyamin, banyak hutang. Sardji merupakan orang yang banyak omong dansuka mencampuri urusan orang lain, terbukti ketika ia terus saja berkomentar tentang istriKaryamin dan berseloroh dalam bekerja. Sardi juga digambarkan sebagai seorang yang sukamenghasut. 
·         Saidah, Seorang perempuan penjual nasi pecel, teman Karyamin yang juga bekerja di areatambang batu sungai. Saidah merupakan sosok wanita yang sabar dan peduli akan nasib orang.

3)      Latar
1.      Latar waktu
Latar waktu digunakan dengan tujuan melukiskan kapan suatu peristiwa terjadi. Latar waktu dalam cerpen ini dimulai dari pagi ini Karyamin sudah dua kali tergelincir. Di sana “. Pemindahan titik berat dari kaki kiri ke kaki kanannya pun harus dilakukan dengan baik. Karyamin harus memperhitungkan tarikan napas serta ayunan tangan demi keseimbangan yang sempurna”. Meskipun demikian, pagi ini Karyamin sudah dua kali tergelincir. Tubuhnya rubuh lalu menggelinding ke bawah, berkejaran dengan batu-batu yang tumpah dari keranjangnya.



4)      Tema
Tema merupakan pokok permasalahan atau konflik sentral yang terkandung di dalam cerpen. Peneliti mencoba mengemukakan konflik utama yang mendukung terbentuknya sebuah tema. Konflik tersebut adalah sebagai berikut.
b.      Karyamin melangkah pelan dan sangat hati-hati. Beban yang menekan pundaknya adalah pikulan yang digantungi dua keranjang batu kali.
c.       “Nah, akhirnya kamu ketemu juga, Min. Kucari kau di rumah, tak ada. Di pangkalan batu, tak ada. Kamu mau menghindar, ya?”“Menghindar?”“Ya, kamu memang mbeling, Min. di gerumbul ini hanya kamu yang belum berpartisipasi. Hanya kamu yang belum setor uang dana Afrika, dana untuk menolong orang-orang yang kelaparan di sana. Nah, sekarang hari terakhir. Aku tak mau lebih lama kaupersulit.”Karyamin mendengar suara napas sendiri. Samar-samar Karyamin juga mendengar detak jantung sendiri. Tetapi karyamin tidak melihat bibir sendiri yang mulai menyungging senyum. Senyum yang sangat baik untuk mewakili kesadaran yang mendalam akan diri serta situasi yang harus dihadapinya. Sayangnya, Pak Pamong malah menjadi marah oleh senyum Karyamin.“Kamu menghina aku, Min?”“Tidak, Pak. Sungguh tidak.”“Kalau tidak, mengapa kamu tersenyum-senyum, ayo cepat, mana uang iuran mu?









SenyumKaryamin
Penulis: Ahmad Tohari
Tohari, Ahmad, “Senyum Karyamin, Kumpulan Cerpen”

Karyamin melangkah pelan dan sangat hati-hati. Beban yang menekan pundaknya adalah pikulan yang digantungi dua keranjang batu kali. Jalan tanah yang sedang didakinya sudah licin dibasahi air yang menetes dari tubuh Karyamin dan kawan-kawan, yang pulang balik mengangkat batu dari sungai ke pangkalan material di atas sana. Karyamin sudah berpengalaman agar setiap perjalananya selamat. Yakni berjalan menanjak sambil menjaga agar titik berat beban dan badannya tetap berada pada telapak kaki kiri atau kanannya. Pemindahan titik berat dari kaki kiri ke kaki kanannya pun harus dilakukan dengan baik. Karyamin harus memperhitungkan tarikan napas serta ayunan tangan demi keseimbangan yang sempurna.

Meskipun demikian, pagi ini Karyamin sudah dua kali tergelincir. Tubuhnya rubuh lalu menggelinding ke bawah, berkejaran dengan batu-batu yang tumpah dari keranjangnya. Dan setiap kali jatuh, Karyamin menjadi bahan tertawaan kawan-kawannya. Mereka, para pengumpul batu itu, senang mencari hiburan dengan cara menertawakan diri mereka sendiri.

Kali ini Karyamin merayap lebih hati-hati. Meski dengan lutut yang sudah bergetar, jemari kaki dicengkeramkannya ke tanah. Segala perhatian dipusatkan pada pengendalian keseimbangan sehingga wajahnya kelihatan tegang. Sementara itu, air terus mengucur dari celana dan tubuhnya yang basah. Dan karena pundaknya ditekan oleh beban yang sangat berat maka nadi di lehernya muncul menyembul kulit.

Boleh jadi Karyamin akan selamat sampai ke atas bila tak ada burung yang nakal. Seekor burung paruh udang terjun dari ranting yang menggantung di atas air, menyambar seekor ikan kecil, lalu melesat tanpa rasa salah hanya sejengkal di depan mata Karyamin.

“Bangsat!” teriak Karyamin yang sedetik kemudian sudah kehilangan keseimbangan. Tubuhnya bergulir sejenak, lalu jatuh terduduk dibarengi suara dua keranjang batu yang ruah. Tubuh itu ikut meluncur, tetapi terhenti karena tangan Karyamin berhasil mencengkeram rerumputan. Empat atau lima orang kawan Karyamin terbahak bersama. Mereka, para pengumpul batu itu, senang mencari hiburan dengan cara menertawakan diri mereka sendiri.

“Sudah, Min. Pulanglah. Kukira hatimu tertinggal di rumah sehingga kamu loyo terus,” kata Sarji yang diam-diam iri pada istri Karyamin yang muda dan gemuk.

“Memang bahaya meninggalkan istrimu seorang diri di rumah. Min, kamu ingat anak-anak muda petugas bank harian itu? Jangan kira mereka hanya datang setiap hari buat menagih setoran kepada istrimu. Jangan percaya kepada anak-anak muda penjual duit itu. Pulanglah. Istrimu kini pasti sedang digodanya.”

“Istrimu tidak hanya menarik mata petugas bank harian. Jangan dilupa tukang edar kupon buntut itu. Kudengar dia juga sering datang ke rumahmu bila kamu sedang keluar. Apa kamu juga percaya dia datang hanya untuk menjual kupon buntut? Jangan-jangan dia menjual buntutnya sendiri!”

Suara gelak tawa terdengar riuh di antara bunyi benturan batu-batu yang mereka lempar ke tepi sungai. Air sungai mendesau-desau oleh langkah-langkah mereka. Ada daun jati melayang, kemudian jatuh di permukaan sungai dan bergerak menentang arus karena tertiup angin. Agak di hilir sana terlihat tiga perempuan pulang dari pasar dan siap menyeberang. Para pencari batu itu diam. Mereka senang mencari hiburan dengan cara melihat perempuan yang mengangkat kain tinggi-tinggi.

Dan Karyamin masih terduduk sambil memandang kedua keranjangnya yang berantakan dan hampa. Angin yang bertiup lemah membuat kulitnya merinding, meski matahari sudah cukup tinggi. Burung paruh udang kembali melintas di atasnya. Karyamin ingin menyumpahinya, tetapi tiba-tiba rongga matanya penuh bintang. Terasa ada sarang lebah di dalam telinganya. Terdengar bunyi keruyuk dari lambungnya yang hanya berisi hawa. Dan mata Karyamin menangkap semuanya menjadi kuning berbinar-binar.

Tetapi kawan-kawan Karyamin mulai berceloteh tentang perempuan yang sedang menyeberang. Mereka melihat sesuatu yang enak dipandang. Atau sesuatu itu bisa melupakan buat sementara perihnya jemari yang selalu mengais bebatuan; tentang tengkulak yang sudah setengah bulan menghilang dengan membawa satu truk batu yang belum dibayarnya; tentang tukang nasi pecel yang siang nanti pasti datang menagih mereka. Dan tentang nomor buntut yang selalu gagal mereka tangkap.

“Min!” teriak Sarji. “Kamu diam saja, apakah kamu tidak melihat ikan putih-putih sebesar paha?”

Mereka tertawa bersama. Mereka, para pengumpul batu itu, memang pandai bergembira dengan cara menertawakan diri mereka sendiri. Dan Karyamin tidak ikut tertawa, melainkan cukup tersenyum. Bagi mereka, tawa atau senyum sama-sama sah sebagai perlindungan terakhir. Tawa dan senyum bagi mereka adalah simbol kemenangan terhadap tengkulak, terhadap rendahnya harga batu, atau terhadap licinnya tanjakan. Pagi itu senyum Karyamin pun menjadi tanda kemenangan atas perutnya yang sudah mulai melilit dan matanya yang berkunang-kunang.

Memang. Karyamin hanya tersenyum. Lalu bangkit meski kepalanya pening dan langit seakan berputar. Diambilnya keranjang dan pikulan, kemudian Karyamin berjalan menaiki tanjakan. Dia tersenyum ketika menapaki tanah licin yang berparut bekas perosotan tubuhnya tadi. Di punggung tanjakan, Karyamin terpaku sejenak melihat tumpukan batu yang belum lagi mencapai seperempat kubik, tetapi harus ditinggalkannya. Di bawah pohon waru, Saidah sedang menggelar dagangannya, nasi pecel. Jakun Karyamin turun naik. Ususnya terasa terpilin.

“Masih pagi kok mau pulang, Min?” tanya Saidah. “Sakit?”

Karyamin menggeleng, dan tersenyum. Saidah memperhatikan bibirnya yang membiru dan kedua telapak tangannya yang pucat. Setelah dekat, Saidah mendengar suara keruyuk dari perut Karyamin.

“Makan, Min?”

“Tidak. Beri aku minum saja. Daganganmu sudah ciut seperti itu. Aku tak ingin menambah utang.”

“Iya, Min, iya. Tetapi kamu lapar, kan?”

Karyamin hanya tersenyum sambil menerima segelas air yang disodorkan oleh Saidah. Ada kehangatan menyapu kerongkongan Karyamin terus ke lambungnya.

“Makan, ya Min? aku tak tahan melihat orang lapar. Tak usah bayar dulu. Aku sabar menunggu tengkulak datang. Batumu juga belum dibayarnya, kan?”

Si paruh udang kembali melintas cepat dengan suara mencecet. Karyamin tak lagi membencinya karena sadar, burung yang demikian pasti sedang mencari makan buat anak-anaknya dalam sarang entah di mana. Karyamin membayangkan anak-anak si paruh udang  sedang meringkuk lemah dalam sarang yang dibangun dalam tanah di sebuah tebing yang terlindung. Angin kembali bertiup. Daun-daun jati beterbangan dan beberapa di antaranya jatuh ke permukaan sungai. Daun-daun itu selalu saja bergerak menentang arus karena dorongan angin.

”Jadi, kamu sungguh tak mau makan, Min?” tanya Saidah ketika melihat Karyamin bangkit.

”Tidak. Kalau kamu tak tahan melihat aku lapar, aku pun tak tega melihat daganganmu habis karena utang-utangku dan kawan-kawan.”

”Iya Min, iya. Tetapi….”

Saidah memutus kata-katanya sendiri karena Karyamin sudah berjalan menjauh. Tetapi saidah masih sempat melihat Karyamin menoleh kepadanya sambil tersenyum. Saidah pun tersenyum sambil menelan ludah berulang-ulang. Ada yang mengganjal di tenggorokan yang tak berhasil didorongnya ke dalam. Diperhatikannya Karyamin yang berjalan melalui lorong liar sepanjang tepi sungai. Kawan-kawan Karyamin menyeru dengan segala macam seloroh cabul. Tetapi Karyamin hanya sekali berhenti dan menoleh sambil melempar senyum.

Sebelum naik meninggalkan pelataran sungai, mata Karyamin menangkap sesuatu yang bergerak pada sebuah ranting yang menggantung di atas air. Oh, si paruh udang. Punggungnya biru mengkilap, dadanya putih bersih, dan paruhnya merah saga. Tiba-tiba burung itu menukik menyambar kan kepala timah sehingga air berkecipak. Dengan mangsa di paruhnya, burung itu melesat melintasi para pencari batu, naik menghindari rumpun gelagah dan lenyap di balik gerumbul pandan. Ada rasa iri di hati Karyamin terhadap si paruh udang. Tetapi dia hanya bisa tersenyum sambil melihat dua keranjangnya yang kosong.

Sesungguhnya Karyamin tidak tahu betul mengapa dia harus pulang. Di rumahnya tak ada sesuatu buat mengusir suara keruyuk dari lambungnya. Istrinya juga tak perlu dikhawatirkan. Oh ya, Karyamin ingat bahwa istrinya memang layak dijadikan alasan buat pulang. Semalaman tadi istrinya tak bisa tidur lantaran bisul di puncak pantatnya. “Maka apa salahnya bila aku pulang buat menemani istriku yang meriang.”

Karyamin mencoba berjalan lebih cepat meskipun kadang secara tiba-tiba banyak kunang-kunang menyerbu ke dalam rongga matanya. Setelah melintasi titian Karyamin melihat sebutir buah jambu yang masak. Dia ingin memungutnya, tetapi urung karena pada buah itu terlihat jelas bekas gigitan kampret. Dilihatnya juga buah salak berceceran di tanah di sekitar pohonnya. Karyamin memungut sebuah, digigit, lalu dilemparkannya jauh-jauh. Lidahnya seakan terkena air tuba oleh rasa buah salak yang masih mentah. Dan Karyamin terus berjalan. Telinganya mendenging ketika Karyamin harus menempuh sebuah tanjakan. Tetapi tak mengapa, karena di balik tanjakan itulah rumahnya.

Sebelum habis mendaki tanjakan, Karyamin mendadak berhenti. Dia melihat dua buah sepeda jengki diparkir di halaman rumahnya. Denging dalam telinganya terdengar semakin nyaring. Kunang-kunang di matanya pun semakin banyak. Maka Karyamin sungguh-sungguh berhenti, dan termangu. Dibayangkan istrinya yang sedang sakit harus menghadapi dua penagih bank harian. Padahal Karyamin tahu, istrinya tidak mampu membayar kewajibannya hari ini, hari esok, hari lusa, dan entah hingga kapan, seperti entah kapan datangnya tengkulak yang telah setengah bulan membawa batunya.

Masih dengan seribu kunang-kunang di matanya, Karyamin mulai berpikir apa perlunya dia pulang. Dia merasa pasti tak bisa menolong keadaan, atau setidaknya menolong istrinya yang sedang menghadapi dua penagih bank harian. Maka pelan-pelan Karyamin membalikkan badan, siap kembali turun. Namun di bawah sana Karyamin melihat seorang lelaki dengan baju batik bermotif tertentu dan berlengan panjang. Kopiahnya yang mulai botak kemerahan meyakinkan Karyamin bahwa lelaki itu adalah Pak Pamong.

“Nah, akhirnya kamu ketemu juga, Min. Kucari kau di rumah, tak ada. Di pangkalan batu, tak ada. Kamu mau menghindar, ya?”

“Menghindar?”

“Ya, kamu memang mbeling, Min. di gerumbul ini hanya kamu yang belum berpartisipasi. Hanya kamu yang belum setor uang dana Afrika, dana untuk menolong orang-orang yang kelaparan di sana. Nah, sekarang hari terakhir. Aku tak mau lebih lama kaupersulit.”

Karyamin mendengar suara napas sendiri. Samar-samar Karyamin juga mendengar detak jantung sendiri. Tetapi karyamin tidak melihat bibir sendiri yang mulai menyungging senyum. Senyum yang sangat baik untuk mewakili kesadaran yang mendalam akan diri serta situasi yang harus dihadapinya. Sayangnya, Pak Pamong malah menjadi marah oleh senyum Karyamin.

“Kamu menghina aku, Min?”

“Tidak, Pak. Sungguh tidak.”

“Kalau tidak, mengapa kamu tersenyum-senyum? Hayo cepat; mana uang iuranmu?”

Kali ini Karyamin tidak hanya tersenyum, melainkan tertawa keras-keras. Demikian keras sehingga mengundang seribu lebah masuk ke telinganya, seribu kunang masuk ke matanya. Lambungnya yang kampong berguncang-guncang dan merapuhkan keseimbangan seluruh tubuhnya. Ketika melihat tubuh Karyamin jatuh terguling ke lembah Pak Pamong berusaha menahannya. Sayang, gagal.

* Tohari, Ahmad, “Senyum Karyamin, Kumpulan Cerpen”, Gramedia, Juni 1989