ANALISIS STRUKTUR DALAM CERPEN
“SENYUM KARYAMIN”
KARYA: Ahmad Tohari
A.
Deskripsi Data
Hampir setiap hari karyamin mengambil batu memakai
keranjang untuk selanjutnya dijual kepada penjual batu. Ia mengambil batu itu
dari pegunungan yang jalannya sangat licin, sehingga setiap perjalannannya ia sering terjatuh. Dan batu-batu di dalam keranjangnya berjatuhan dan beterbaran
dimana-mana.Takjarang teman-teman karyamin menertawakan dirinya. Ia hanya bisa
tersenyum.
a.
Biografi tokoh
Ahmad Tohari, (lahir di Tinggarjaya,
Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah, 13 Juni1948; umur 67 tahun) adalah sastrawan
dan budayawan berkebangsaan Indonesia. Ia menamatkan SMA di Purwokerto. [1]
Karya monumentalnya, Ronggeng Dukuh Paruk, sudah diterbitkan dalam
berbagai bahasa dan diangkat dalam film layar lebar berjudul Sang Penari.
Ia pernah mengenyam bangku kuliah, yakni Fakultas Ilmu Kedokteran Ibnu Khaldun,
Jakarta (1967-1970), Fakultas Ekonomi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto
(1974-1975, dan Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik Universitas Jenderal
Soedirman (1975-1976). Tulisan-tulisannya berisi gagasan kebudayaan dimuat di
berbagai media massa. Ia juga menjadi pembicara di berbagai diskusi/seminar
kebudayaan[2].
Dalam dunia jurnalistik,
Ahmad Tohari pernah menjadi stafredakturharian Merdeka, majalah Keluarga dan majalahAmanah,
semuanya di Jakarta. Dalam karier kepengarangannya, penulis yang berlatar kehidupan pesantren ini telah melahirkan novel dan kumpulan cerita pendek. Beberapa karyafiksinya antaralain trilogy Ronggeng Dukuh Paruk telah terbit dalam edisi jepang, Jerman, Belanda dan Inggris. Tahun
1990 pengarang yang punya hobi mincing ini mengikuti International Writing Programme di Iowa City, AmerikaSerikat dan memperoleh penghargaan The Fellow
of The University of Iowa. [3]
Ronggeng Dukuh Paruk, novel yang diterbitkantahun 1982 berkisah tentang pergulatan penari tayub di
dusunkecil, Dukuh Paruk padamasa pergolakan komunis. Karya nyaini dianggap kekiri-kirian oleh pemerintah OrdeBaru, sehingga Tohari diinterogasi selama berminggu-minggu. Hingga akhirnya Tohari menghubungi sahabatnya Gus
Dur, dan akhirnya terbebas dari intimidasi dan jerathukum.[4]
Bagian ketigatrilogi, berjudul Jantera Bianglala, diterjemahkan kedalam bahasa Inggris dancuplikannya dimuat dalam Jurnal Manoa edisi Silenced
Voices terbitan Honolulu University tahun 2000, termasuk bagian yang
disensor dan tidak dimuat dalam edisi bahasa Indonesia. [5]
Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk diterjemahkan kedalam bahasa Inggris dengan judul The Danceroleh Rene T.A.Lysloff.Trilogiini juga difilmkan oleh sutradaraIfaIrfansyah dengan judul Sang Penari (2011). Tohari memberikan apresiasi yang
tinggi terhadap parapembuat film Sang
Penari, dan berujariniakanjadi dokumentasi visual yang menarik versi rakyat, bukan versi kota sebagaimana dalam film-film sebelumnya. Padabulan Desember 2011, Ahmad
Tohari mengungkapkan bahwa dirinya berencana untuk melanjutkan Triloginya menjadi Tetralogi dengan membuat satu novel lagi.
Penghargaan
- Cerpennya berjudul Jasa-jasa buat Sanwirya mendapat Hadiah Hiburan Sayembara Kincir Emas 1975 yang diselenggarakan Radio Nederlands Wereldomroep.
- Novelnya Kubah (1980) memenangi hadiah Yayasan Buku Utama tahun 1980.
- Ronggeng Dukuh Paruk (1982), Lintang Kemukus Dini Hari (1985), Jentera Bianglala (1986) meraih hadiah Yayasan Buku Utama tahun 1986.
- Novelnya Di Kaki Bukit Cibalak (1986) menjadi pemenang salah satu hadiah Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta tahun 1979. [8]
- Pada tahun 1995 Ahmad Tohari menerima Hadiah Sastra Asean, SEA Write Award. [1]Sekitar tahun 2007 Ahmad Tohari menerima HadiahSastraRancage[7]
Karyatulis
- Kubah (novel, 1980)
- Novel Trilog iRonggeng Dukuh Paruk (diadaptasi menjadi film tahun 2011):
- RonggengDukuhParuk (novel, 1982)
- LintangKemukusDiniHari (novel, 1985)
- JanteraBianglala (novel, 1986)
- Di Kaki Bukit Cibalak (novel, 1986)
- SenyumKaryamin (kumpulancerpen, 1989)
- BekisarMerah (novel, 1993)
- Lingkar Tanah Lingkar Air (novel, 1995)
- NyanyianMalam (kumpulancerpen, 2000)
- Belantik (novel, 2001)
- Orang OrangProyek (novel, 2002)
- RusmiInginPulang (kumpulancerpen, 2004)
- RonggengDukuhParukBanyumasan (novel bahasaJawa, 2006; meraihHadiahSasteraRancagé2007
Karya-karya Ahmad Tohari telah diterbitkan dalam bahasa Jepang,
Tionghoa, Belanda dan Jerman.Edisi bahasa Inggris RonggengDukuhParuk , LintangKemukusDiniHari
, JanteraBianglala diterbitkan oleh Lontar Foundation dalam satu buku berjudul The Dancer diterjemahkan oleh Rene T.A. Lysloff. Pada tahun 2011, trilogidari
novel RonggengDukuhParuk diadaptasi menjadi sebuah film
fitur yang berjudul Sang Penari yang
disutradarai IfaIsfansyah Film ini memenangkan 4 Piala Citra dalam Festival Film Indonesia 2011.
a.
Sinopsis
cerpen
Hampir setiap hari karyamin mengambil batu
memakai keranjang untuk selanjutnya dijual kepada penjual batu. Ia mengambil
batu itu dari pegunungan yang jalannya sangat licin, sehingga setiap
perjalannannya ia sering terjatuh. Dan batu-batu di dalam
keranjangnyaberjatuhan dan beterbaran dimana-mana.Takjarang teman-teman
karyamin menertawakan dirinya. Ia hanya bisa tersenyum.Ketika teman-temannya
menakuti-nakuti tentang pegawai bank harian yang selalu menggodaistrinya di
rumah ketika ia pergi, juga tidak ketinggalan tukang jualan edr kupon buntut.
Tapi,ketika teman-temannya mengejek,
ia hanya bisa tersenyum. Ya tersenyum tanpa berkata sepatah kata pun. Saat di perjalanan, terasa
sekali perutnya seperti melilit dan matanya yang berkunang-kunang. kakinya
mulai gemetar karena menahan beban di pundaknya yang begitu berat.Memang,
karyamin hanya tersenyum. Lalu bangkit meski kepalanya pening dan langit seakan berputar. Dia tersenyum
ketika menapaki tanag licin yang berparut bekas perosotan tubuhnyaketika jatuh
tadi.Ketika melewati pohon waru, ia melihat Saidah sedang menggelar
dagangannya, nasipecel. Jakun Karyamin turun naik. Ususnya terasa
terpilin.Saidah menawari Karyamin untuk makan di warungnya, hanya saja ia sadar
akan hutang-hutangnya yang belum ia bayar. Ia tak tega melihat Saidah yang
dengan sabar menunggutengkulak datang. Ia hanya meminta segelas air putih.
Walau sebenarnya itu sangat tidak cukup. Bibirnya sudah membiru,
dan kedua telapak tangannya pucat. Tapi walaupunSaidah memaksa, iahanya berlalu
bersama seyumannya… ya, ia hanya tersnyum. Sebelum naik meninggalkan pelataran
sungai, mata Karyamin menangkap sesuatu yangbergerak pada sebuah ranting yang
menggantung di atas air. Oh, si paruh udang. Punggungnyabiru mengkilap, dadanya
putih bersih, dan paruhnya merah saga. Tiba-tiba burung itu menukikmenyambar
kan kepala timah sehingga air berkecipak. Dengan mangsa di paruhnya, burung
itumelesat melintasi para pencari batu, naik menghindari rumpun gelagah dan
lenyap di balikgerumbul pandan. Ada rasa iri di hati Karyamin terhadap si paruh
udang. Tetapi dia hanya bisatersenyum melihat keranjangnya yang kosong.Masih
dengan seribu kunang-kunang di matanya, Karyamin mulai berfikir apa perlunyadia
pulang. Dia merasa pasti tak bisa menolong keadaan, atau setidaknya menolong
istrinya yangsedang menghadapi dua penagih bank harian. Maka pelan-pelan
Karyamin membalikan badan,siap kembali turun.
Namun di bawah sana KAryamin melihat lelaki
dengan baju batik bermotiftertentu dan berlengan panjang. Kopiahnya yang mulai
botak kemerahan meyakinkan Karyaminbahwa lelaki itu adalah Pa Pamong. Pak Pamong menagih uang dana
Afrika, dana untuk menolongorang-orang yang kelaparandisana. Karyamin mendengar
suara nafas sendiri. Samar-samar karyamin juga mendengar detakjantung sendiri.
Tetapi karyamin tidak melihat bibir sendiri yang mulai menyungging senyum.Senyum
sangat baik untuk mewakili kesadaran yang mendalan akan diri serta situasi yang
harusdihadapinya. Sayangnya, Pak Pamong malah menjadi marah oleh senyum
Karyamin. Ia merasadihina oleh karyamin. Kali ini ia bukan hanya tersenyum,
melainkan tertawa keras-keras.Demikian keras sehingga mengundang seribu lebah
masuk ke telinganya, seribu kunang-kunangmasuk ke matanya. Lambungnya yang
kampong beguncang-guncang dan merapuhkankeseimbangan seluruh tubuhnya. Ketika
melihat tubuh Krayamin jatuh terguling ke lembah PakPamong berusaha menahnnya.
Sayang, gagal.
b.
Analisis Data
1.
Cerpen “SenyumKaryamin” Karya:
Ahmad Tohari
a.
StrukturCerpen
1)
Alur
Untuk menemukan struktur alur yang digunakan oleh pengarang di dalam cerpen ini, peneliti berusaha melihat rangkaian peristiwa
yang terdapat di dalam cerpen. Rangkaian peristiwa tersebut adalah sebagai
berikut:
1.
Karyamin melangkah pelan dan sangat hati-hati.
2.
Karyamin sudah berpengalaman agar setiap perjalananya selamat.
3.
pagi ini Karyamin sudah dua kali tergelincir.
3.1. Tubuhnya rubuh lalu
menggelinding ke bawah, berkejaran dengan batu-batu yang tumpah dari
keranjangnya.
4.
“Bangsat!” teriak Karyamin yang sedetik kemudian sudah kehilangan
keseimbangan. Tubuhnya bergulir sejenak, lalu jatuh terduduk dibarengi suara
dua keranjang batu yang ruah. Tubuh itu ikut meluncur, tetapi terhenti karena
tangan Karyamin berhasil mencengkeram rerumputan.
5.
“Istrimu tidak hanya menarik mata petugas bank harian. Jangan dilupa tukang
edar kupon buntut itu.
6.
Mereka tertawa bersama. Mereka, para pengumpul batu itu, memang pandai
bergembira dengan cara menertawakan diri mereka sendiri.
7.
Karyamin terpaku sejenak melihat tumpukan batu yang belum lagi mencapai
seperempat kubik, tetapi harus ditinggalkannya.
8.
Karyamin hanya tersenyum sambil menerima segelas air yang disodorkan oleh
Saidah.
9.
Si paruh udang kembali melintas cepat dengan suara mencecet. Karyamin tak
lagi membencinya karena sadar, burung yang demikian pasti sedang mencari makan
buat anak-anaknya dalam sarang entah di mana.
10. Sebelum naik
meninggalkan pelataran sungai, mata Karyamin menangkap sesuatu yang bergerak
pada sebuah ranting yang menggantung di atas air.
11. Sesungguhnya
Karyamin tidak tahu betul mengapa dia harus pulang. Di rumahnya tak ada sesuatu
buat mengusir suara keruyuk dari lambungnya.
12. Karyamin
mencoba berjalan lebih cepat meskipun kadang secara tiba-tiba banyak
kunang-kunang menyerbu ke dalam rongga matanya.
13. Sebelum habis
mendaki tanjakan, Karyamin mendadak berhenti. Dia melihat dua buah sepeda
jengki diparkir di halaman rumahnya.
14. Karyamin mulai
berpikir apa perlunya dia pulang. Dia merasa pasti tak bisa menolong keadaan.
15. Min. di gerumbul ini hanya kamu yang belum
berpartisipasi. Hanya kamu yang belum setor uang dana Afrika.
16. Kali ini
Karyamin tidak hanya tersenyum, melainkan tertawa keras-keras.
17. Ketika melihat
tubuh Karyamin jatuh terguling ke lembah Pak Pamong berusaha menahannya.
Sayang, gagal.
2)
Penokohan
·
Karyamin, Seorang lelaki yang berprofesi sebagai kuli pengangkut batu yang
miskin dengan penghasilan yang minim dan banyak hutang. Karyamin
digambarka sebagai seorang yang sabar dan tak mudah putus asa dalam
menjalani hidupnya yang penuh konflik, hal tersebut terbuktisaat ia merasa
lapar ia tak mengeluh pada teman-temannya dan hanya tersenyum dalammenghadapi
masalahnya. Namun terlepas dari semua itu, Karyamin juga memiliki sifat
yangkasar sebagai
1.
seorang kuli, yang nampak pada saat ia berkata ―bangsat‖ dan berniat
membabat burung paruh udang yang melintasinya.
2.
Selain itu, Karyamin juga memiliki sifat pengecut,terbukti ketika sampai di
depan rumahnya dan mengira ada penagih hutang, ia hendak menghidar.
·
Sardji, Teman Karyamin yang juga berprofesi sebagai kuli pengangkut batu.
Dalam hal nasib, Sardji sama dengan Karyamin, banyak hutang. Sardji merupakan
orang yang banyak omong dansuka mencampuri urusan orang lain, terbukti ketika
ia terus saja berkomentar tentang istriKaryamin dan berseloroh dalam bekerja.
Sardi juga digambarkan sebagai seorang yang sukamenghasut.
·
Saidah, Seorang perempuan penjual nasi pecel, teman Karyamin yang juga bekerja
di areatambang batu sungai. Saidah merupakan sosok wanita yang sabar dan peduli
akan nasib orang.
3)
Latar
1.
Latar waktu
Latar waktu digunakan dengan tujuan melukiskan kapan suatu peristiwa
terjadi. Latar waktu dalam cerpen ini dimulai dari pagi ini Karyamin sudah dua
kali tergelincir. Di sana “. Pemindahan titik berat dari kaki kiri ke kaki
kanannya pun harus dilakukan dengan baik. Karyamin harus memperhitungkan
tarikan napas serta ayunan tangan demi keseimbangan yang sempurna”. Meskipun
demikian, pagi ini Karyamin sudah dua kali tergelincir. Tubuhnya rubuh lalu
menggelinding ke bawah, berkejaran dengan batu-batu yang tumpah dari
keranjangnya.
4)
Tema
Tema merupakan pokok permasalahan
atau konflik sentral yang terkandung di dalam cerpen. Peneliti mencoba
mengemukakan konflik utama yang mendukung terbentuknya sebuah tema. Konflik
tersebut adalah sebagai berikut.
b.
Karyamin melangkah pelan dan sangat hati-hati. Beban yang menekan pundaknya
adalah pikulan yang digantungi dua keranjang batu kali.
c.
“Nah, akhirnya kamu ketemu juga, Min. Kucari kau di rumah, tak ada. Di
pangkalan batu, tak ada. Kamu mau menghindar, ya?”“Menghindar?”“Ya, kamu memang
mbeling, Min. di gerumbul ini hanya kamu yang belum berpartisipasi. Hanya kamu
yang belum setor uang dana Afrika, dana untuk menolong orang-orang yang
kelaparan di sana. Nah, sekarang hari terakhir. Aku tak mau lebih lama
kaupersulit.”Karyamin mendengar suara napas sendiri. Samar-samar Karyamin juga
mendengar detak jantung sendiri. Tetapi karyamin tidak melihat bibir sendiri
yang mulai menyungging senyum. Senyum yang sangat baik untuk mewakili kesadaran
yang mendalam akan diri serta situasi yang harus dihadapinya. Sayangnya, Pak
Pamong malah menjadi marah oleh senyum Karyamin.“Kamu menghina aku,
Min?”“Tidak, Pak. Sungguh tidak.”“Kalau tidak, mengapa kamu tersenyum-senyum,
ayo cepat, mana uang iuran mu?
SenyumKaryamin
Penulis: Ahmad Tohari
Penulis: Ahmad Tohari
Karyamin melangkah pelan dan sangat hati-hati. Beban yang menekan pundaknya
adalah pikulan yang digantungi dua keranjang batu kali. Jalan tanah yang sedang
didakinya sudah licin dibasahi air yang menetes dari tubuh Karyamin dan
kawan-kawan, yang pulang balik mengangkat batu dari sungai ke pangkalan
material di atas sana. Karyamin sudah berpengalaman agar setiap perjalananya
selamat. Yakni berjalan menanjak sambil menjaga agar titik berat beban dan
badannya tetap berada pada telapak kaki kiri atau kanannya. Pemindahan titik
berat dari kaki kiri ke kaki kanannya pun harus dilakukan dengan baik. Karyamin
harus memperhitungkan tarikan napas serta ayunan tangan demi keseimbangan yang
sempurna.
Meskipun demikian, pagi ini Karyamin sudah dua kali tergelincir. Tubuhnya
rubuh lalu menggelinding ke bawah, berkejaran dengan batu-batu yang tumpah dari
keranjangnya. Dan setiap kali jatuh, Karyamin menjadi bahan tertawaan
kawan-kawannya. Mereka, para pengumpul batu itu, senang mencari hiburan dengan
cara menertawakan diri mereka sendiri.
Kali ini Karyamin merayap lebih hati-hati. Meski dengan lutut yang sudah
bergetar, jemari kaki dicengkeramkannya ke tanah. Segala perhatian dipusatkan
pada pengendalian keseimbangan sehingga wajahnya kelihatan tegang. Sementara
itu, air terus mengucur dari celana dan tubuhnya yang basah. Dan karena
pundaknya ditekan oleh beban yang sangat berat maka nadi di lehernya muncul
menyembul kulit.
Boleh jadi Karyamin akan selamat sampai ke atas bila tak ada burung yang
nakal. Seekor burung paruh udang terjun dari ranting yang menggantung di atas
air, menyambar seekor ikan kecil, lalu melesat tanpa rasa salah hanya sejengkal
di depan mata Karyamin.
“Bangsat!” teriak Karyamin yang sedetik kemudian sudah kehilangan
keseimbangan. Tubuhnya bergulir sejenak, lalu jatuh terduduk dibarengi suara
dua keranjang batu yang ruah. Tubuh itu ikut meluncur, tetapi terhenti karena
tangan Karyamin berhasil mencengkeram rerumputan. Empat atau lima orang kawan
Karyamin terbahak bersama. Mereka, para pengumpul batu itu, senang mencari
hiburan dengan cara menertawakan diri mereka sendiri.
“Sudah, Min. Pulanglah. Kukira hatimu tertinggal di rumah sehingga kamu
loyo terus,” kata Sarji yang diam-diam iri pada istri Karyamin yang muda dan
gemuk.
“Memang bahaya meninggalkan istrimu seorang diri di rumah. Min, kamu ingat
anak-anak muda petugas bank harian itu? Jangan kira mereka hanya datang setiap
hari buat menagih setoran kepada istrimu. Jangan percaya kepada anak-anak muda
penjual duit itu. Pulanglah. Istrimu kini pasti sedang digodanya.”
“Istrimu tidak hanya menarik mata petugas bank harian. Jangan dilupa tukang
edar kupon buntut itu. Kudengar dia juga sering datang ke rumahmu bila kamu
sedang keluar. Apa kamu juga percaya dia datang hanya untuk menjual kupon
buntut? Jangan-jangan dia menjual buntutnya sendiri!”
Suara gelak tawa terdengar riuh di antara bunyi benturan batu-batu yang
mereka lempar ke tepi sungai. Air sungai mendesau-desau oleh langkah-langkah
mereka. Ada daun jati melayang, kemudian jatuh di permukaan sungai dan bergerak
menentang arus karena tertiup angin. Agak di hilir sana terlihat tiga perempuan
pulang dari pasar dan siap menyeberang. Para pencari batu itu diam. Mereka
senang mencari hiburan dengan cara melihat perempuan yang mengangkat kain
tinggi-tinggi.
Dan Karyamin masih terduduk sambil memandang kedua keranjangnya yang
berantakan dan hampa. Angin yang bertiup lemah membuat kulitnya merinding,
meski matahari sudah cukup tinggi. Burung paruh udang kembali melintas di
atasnya. Karyamin ingin menyumpahinya, tetapi tiba-tiba rongga matanya penuh
bintang. Terasa ada sarang lebah di dalam telinganya. Terdengar bunyi keruyuk
dari lambungnya yang hanya berisi hawa. Dan mata Karyamin menangkap semuanya
menjadi kuning berbinar-binar.
Tetapi kawan-kawan Karyamin mulai berceloteh tentang perempuan yang sedang
menyeberang. Mereka melihat sesuatu yang enak dipandang. Atau sesuatu itu bisa
melupakan buat sementara perihnya jemari yang selalu mengais bebatuan; tentang
tengkulak yang sudah setengah bulan menghilang dengan membawa satu truk batu
yang belum dibayarnya; tentang tukang nasi pecel yang siang nanti pasti datang
menagih mereka. Dan tentang nomor buntut yang selalu gagal mereka tangkap.
“Min!” teriak Sarji. “Kamu diam saja, apakah kamu tidak melihat ikan putih-putih
sebesar paha?”
Mereka tertawa bersama. Mereka, para pengumpul batu itu, memang pandai
bergembira dengan cara menertawakan diri mereka sendiri. Dan Karyamin tidak
ikut tertawa, melainkan cukup tersenyum. Bagi mereka, tawa atau senyum
sama-sama sah sebagai perlindungan terakhir. Tawa dan senyum bagi mereka adalah
simbol kemenangan terhadap tengkulak, terhadap rendahnya harga batu, atau
terhadap licinnya tanjakan. Pagi itu senyum Karyamin pun menjadi tanda
kemenangan atas perutnya yang sudah mulai melilit dan matanya yang
berkunang-kunang.
Memang. Karyamin hanya tersenyum. Lalu bangkit meski kepalanya pening dan
langit seakan berputar. Diambilnya keranjang dan pikulan, kemudian Karyamin
berjalan menaiki tanjakan. Dia tersenyum ketika menapaki tanah licin yang
berparut bekas perosotan tubuhnya tadi. Di punggung tanjakan, Karyamin terpaku
sejenak melihat tumpukan batu yang belum lagi mencapai seperempat kubik, tetapi
harus ditinggalkannya. Di bawah pohon waru, Saidah sedang menggelar
dagangannya, nasi pecel. Jakun Karyamin turun naik. Ususnya terasa terpilin.
“Masih pagi kok mau pulang, Min?” tanya Saidah. “Sakit?”
Karyamin menggeleng, dan tersenyum. Saidah memperhatikan bibirnya yang
membiru dan kedua telapak tangannya yang pucat. Setelah dekat, Saidah mendengar
suara keruyuk dari perut Karyamin.
“Makan, Min?”
“Tidak. Beri aku minum saja. Daganganmu sudah ciut seperti itu. Aku tak
ingin menambah utang.”
“Iya, Min, iya. Tetapi kamu lapar, kan?”
Karyamin hanya tersenyum sambil menerima segelas air yang disodorkan oleh
Saidah. Ada kehangatan menyapu kerongkongan Karyamin terus ke lambungnya.
“Makan, ya Min? aku tak tahan melihat orang lapar. Tak usah bayar dulu. Aku
sabar menunggu tengkulak datang. Batumu juga belum dibayarnya, kan?”
Si paruh udang kembali melintas cepat dengan suara mencecet. Karyamin tak
lagi membencinya karena sadar, burung yang demikian pasti sedang mencari makan
buat anak-anaknya dalam sarang entah di mana. Karyamin membayangkan anak-anak
si paruh udang sedang meringkuk lemah dalam
sarang yang dibangun dalam tanah di sebuah tebing yang terlindung. Angin
kembali bertiup. Daun-daun jati beterbangan dan beberapa di antaranya jatuh ke
permukaan sungai. Daun-daun itu selalu saja bergerak menentang arus karena
dorongan angin.
”Jadi, kamu sungguh tak mau makan, Min?” tanya Saidah ketika melihat
Karyamin bangkit.
”Tidak. Kalau kamu tak tahan melihat aku lapar, aku pun tak tega melihat
daganganmu habis karena utang-utangku dan kawan-kawan.”
”Iya Min, iya. Tetapi….”
Saidah memutus kata-katanya sendiri karena Karyamin sudah berjalan menjauh.
Tetapi saidah masih sempat melihat Karyamin menoleh kepadanya sambil tersenyum.
Saidah pun tersenyum sambil menelan ludah berulang-ulang. Ada yang mengganjal
di tenggorokan yang tak berhasil didorongnya ke dalam. Diperhatikannya Karyamin
yang berjalan melalui lorong liar sepanjang tepi sungai. Kawan-kawan Karyamin
menyeru dengan segala macam seloroh cabul. Tetapi Karyamin hanya sekali
berhenti dan menoleh sambil melempar senyum.
Sebelum naik meninggalkan pelataran sungai, mata Karyamin menangkap sesuatu
yang bergerak pada sebuah ranting yang menggantung di atas air. Oh, si paruh
udang. Punggungnya biru mengkilap, dadanya putih bersih, dan paruhnya merah
saga. Tiba-tiba burung itu menukik menyambar kan kepala timah sehingga air
berkecipak. Dengan mangsa di paruhnya, burung itu melesat melintasi para
pencari batu, naik menghindari rumpun gelagah dan lenyap di balik gerumbul
pandan. Ada rasa iri di hati Karyamin terhadap si paruh udang. Tetapi dia hanya
bisa tersenyum sambil melihat dua keranjangnya yang kosong.
Sesungguhnya Karyamin tidak tahu betul mengapa dia harus pulang. Di
rumahnya tak ada sesuatu buat mengusir suara keruyuk dari lambungnya. Istrinya
juga tak perlu dikhawatirkan. Oh ya, Karyamin ingat bahwa istrinya memang layak
dijadikan alasan buat pulang. Semalaman tadi istrinya tak bisa tidur lantaran
bisul di puncak pantatnya. “Maka apa salahnya bila aku pulang buat menemani
istriku yang meriang.”
Karyamin mencoba berjalan lebih cepat meskipun kadang secara tiba-tiba
banyak kunang-kunang menyerbu ke dalam rongga matanya. Setelah melintasi titian
Karyamin melihat sebutir buah jambu yang masak. Dia ingin memungutnya, tetapi
urung karena pada buah itu terlihat jelas bekas gigitan kampret. Dilihatnya
juga buah salak berceceran di tanah di sekitar pohonnya. Karyamin memungut
sebuah, digigit, lalu dilemparkannya jauh-jauh. Lidahnya seakan terkena air
tuba oleh rasa buah salak yang masih mentah. Dan Karyamin terus berjalan.
Telinganya mendenging ketika Karyamin harus menempuh sebuah tanjakan. Tetapi
tak mengapa, karena di balik tanjakan itulah rumahnya.
Sebelum habis mendaki tanjakan, Karyamin mendadak berhenti. Dia melihat dua
buah sepeda jengki diparkir di halaman rumahnya. Denging dalam telinganya
terdengar semakin nyaring. Kunang-kunang di matanya pun semakin banyak. Maka
Karyamin sungguh-sungguh berhenti, dan termangu. Dibayangkan istrinya yang
sedang sakit harus menghadapi dua penagih bank harian. Padahal Karyamin tahu,
istrinya tidak mampu membayar kewajibannya hari ini, hari esok, hari lusa, dan
entah hingga kapan, seperti entah kapan datangnya tengkulak yang telah setengah
bulan membawa batunya.
Masih dengan seribu kunang-kunang di matanya, Karyamin mulai berpikir apa
perlunya dia pulang. Dia merasa pasti tak bisa menolong keadaan, atau
setidaknya menolong istrinya yang sedang menghadapi dua penagih bank harian.
Maka pelan-pelan Karyamin membalikkan badan, siap kembali turun. Namun di bawah
sana Karyamin melihat seorang lelaki dengan baju batik bermotif tertentu dan
berlengan panjang. Kopiahnya yang mulai botak kemerahan meyakinkan Karyamin
bahwa lelaki itu adalah Pak Pamong.
“Nah, akhirnya kamu ketemu juga, Min. Kucari kau di rumah, tak ada. Di
pangkalan batu, tak ada. Kamu mau menghindar, ya?”
“Menghindar?”
“Ya, kamu memang mbeling, Min. di gerumbul ini hanya kamu yang belum
berpartisipasi. Hanya kamu yang belum setor uang dana Afrika, dana untuk
menolong orang-orang yang kelaparan di sana. Nah, sekarang hari terakhir. Aku
tak mau lebih lama kaupersulit.”
Karyamin mendengar suara napas sendiri. Samar-samar Karyamin juga mendengar
detak jantung sendiri. Tetapi karyamin tidak melihat bibir sendiri yang mulai
menyungging senyum. Senyum yang sangat baik untuk mewakili kesadaran yang mendalam
akan diri serta situasi yang harus dihadapinya. Sayangnya, Pak Pamong malah
menjadi marah oleh senyum Karyamin.
“Kamu menghina aku, Min?”
“Tidak, Pak. Sungguh tidak.”
“Kalau tidak, mengapa kamu tersenyum-senyum? Hayo cepat; mana uang
iuranmu?”
Kali ini Karyamin tidak hanya tersenyum, melainkan tertawa keras-keras.
Demikian keras sehingga mengundang seribu lebah masuk ke telinganya, seribu
kunang masuk ke matanya. Lambungnya yang kampong berguncang-guncang dan
merapuhkan keseimbangan seluruh tubuhnya. Ketika melihat tubuh Karyamin jatuh
terguling ke lembah Pak Pamong berusaha menahannya. Sayang, gagal.
* Tohari, Ahmad, “Senyum Karyamin, Kumpulan Cerpen”, Gramedia, Juni 1989
Tidak ada komentar:
Posting Komentar